Share This Post

Pramuka Peduli

Volunterisme Pramuka Tak Ada Tandingnya

Volunterisme Pramuka Tak Ada Tandingnya

“….Dan setiap Pramuka Indonesia menjadi patriot Indonesia yang berwatak kesatria dan berjiwa serta bertindak sesuai dengan Pancasila. Patriot Indonesia yang dengan teladan perbuatannya menjadi pandu Indonesia, yang menunjukkan jalan ke arah yang baik kepada masyarakat dan kepada diri sendiri, dalam penyelenggaraan amanat penderitaan rakyat.”

Kata-kata di atas adalah “sabda” Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno, orang yang menggagas lahirnya organisasi kepanduan bernama Pramuka pada 14 Agustus 1961 silam. Dalam wasiatnya, Presiden Indonesia Pertama itu memberi penekanan agar Pancasila menjadi “ruh” yang menjiwai sekujur jasad Pramuka dalam segala tindak-tanduknya.

Dari sini kita menjadi maklum, sejak mula dibentuk, Pramuka memang digariskan menjadi insan Pancasila yang semurni-murninya. Hal itu diwujudkan dengan mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata sehari-hari, bukan retorika belaka. Pun, Darma Darma yang menjadi jiwanya Pramuka merupakan “tafsir” yang lebih luas dan luwes atas Pancasila.

Jika diklasifikasi, poin-poin Dasa Darma itu bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian: kewajiban terhadap Tuhan, pengabdian terhadap sesama manusia, dan cinta terhadap alam atau lingkungan. Ketiganya lalu menginspirasi Pramuka di mana pun berada untuk melakukan berbagai kerelawanan di setiap kegiatan dan musibah yang menimpa masyarakat.

Volunterisme atau kerelawanan adalah kata kunci utama Pramuka yang jika hilang, hilang pula jiwa Pramuka. Saya melihat, kerelawanan Pramuka itu bahkan sulit ditandingi oleh organisasi atau lembaga mana pun, alih-alih orang per orangan. Jika BNPB atau BPBD terlibat aktif menangani bencana, itu wajar, karena mereka punya anggaran dan mereka mendapat upah untuk itu. Tetapi Pramuka? Upahnya cukup di sisi Tuhan!

Bisa dipastikan, setiap kali terjadi bencana alam atau musibah kemanusiaan, personel baju cokelat-cokelat selalu hadir membantu. Bahkan, Gerakan Pramuka di banyak daerah telah membentuk unit-unit penolong bencana, seperti Unit Bantu Pertolongan Pramuka (UBALOKA) di Jawa Tengah, Brigade Penolong di Jawa Timur dan Maluku, Scouts Emergency Response (SER) di DIY, dan Pramuka Peduli di provinsi-provinsi lainnya.

Pramuka hadir di kondisi-kondisi sulit itu baik diminta maupun tak diminta. Bukan sebagai benalu, kehadiran mereka di lokasi bencana adalah untuk menjadi pengabdi. Meminjam istilah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Pramuka bisa berbagi pemikiran dan tenaga dalam situasi darurat.

“Semangat volunterisme mereka sangat kuat. Ini tercermin dari keputusan mereka untuk bertugas dan berbagi pemikiran dan tenaga dalam penanganan darurat. Meskipun tidak pada aktivitas yang strategis, kontribusi mereka sangat membantu operasional di dalam posko,” kata Sutopo.

Bersama masyarakat dan unsur-unsur penanggulangan bencana lainnya, relawan-relawan Pramuka terjun ke lokasi banjir di Yogyakarta, Jawa Timur, dan erupsi Gunung Agung di Bali. Di tempat terakhir ini bahkan mereka membentuk Dapur Air dan menggawangi Call Center bencana. Segala informasi terkait bencana Gunung Agung seperti erupsi, kebutuhan logistik, kesehatan, ambulan dan lain-lain dipercayakan hanya kepada Pramuka di Call Center ini.

Tidak hanya di dalam negeri, volunterisme Pramuka juga dirasakan hingga ke luar negeri. Medio September-Oktober lalu, relawan Pramuka hadir di Rakhine State, Myanmar untuk mendistribusikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya. Gerakan Pramuka juga mengirimkan anggotanya saat bencana kelaparan di negara-negara Afrika, seperti Somalia, Sudan, Sudan Selatan, Kenya, Ethiopia, Afrika Tengah, Uganda, Kongo, Angola, Nigeria, dan Palestina.

Yang tak boleh dilupakan pula, bukan hanya sumbangan tenaga dan pikiran, Pramuka juga secara sukarela menggalang dana untuk membantu korban bencana. Hampir di seluruh daerah di Indonesia, Pramuka menggalang “operasi” Bumbung Kemanusiaan. Data dari Kwarnas Gerakan Pramuka, dana yang berhasil dihimpun Pramuka hingga saat ini mencapai Rp700 juta.

Tidak hanya soal bencana, relawan-relawan Tunas Kelapa juga turun di setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat. Sebut saja arus mudik Lebaran, perayaan hari raya, pameran, bahkan resepsi pernikahan! (AK)

Tinggalkan Komentar