Share This Post

Rebranding Pramuka

Potret Eksisteni Tunas Muda Bhineka Tunggal Ika sebagai Aspirasi Peradaban Bangsa yang Bermartabat

Potret Eksisteni Tunas Muda Bhineka Tunggal Ika sebagai Aspirasi Peradaban Bangsa yang Bermartabat

Generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Pernyataan ini akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia apabila dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, faktanya membuktikan bahwa generasi muda di Indonesia saat ini cenderung mengkhawatirkan perilakunya bagi kelanjutan masa depan bangsa ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi pada generasi muda, antara lain kasus narkoba, kejahatan, pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Peranan Tunas Muda tentunya masih sangat diperlukan untuk regenerasi dalam mewujudkan dan melanjutkan cita-cita bangsa ini yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu. Istilah Tunas Muda yang merujuk kepada Gerakan Pramuka berperan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara melaksanakan semua prinsip dasar yang sudah tertuang pada AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) Gerakan Pramuka.

Dengan begitu, problema di masyarakat yang sebagian besar dialami, dan disebabkan oleh generasi muda dapat diminimalisir ataupun dimusnahkan agar tercipta masyarakat yang makmur dan terorganisir dengan baik. Serta terjaganya generasi muda dari ancaman-ancaman era globalisasi yang semakin besar memiliki ancaman untuk menjerumuskan generasi muda harapan bangsa.

Peranan tunas muda atau Gerakan Pramuka terhadap kemajuan bangsa sudah membaik. Misalnya, dengan mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat tingkat daerah atau nasional, memenangkan kompetisi antar-negara. Dengan menjadi pemenang atau hanya berpartisipasi, itu sudah menjadi peranan dalam kemajuan bangsa.

Terbinanya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya dalam hal ini telah tercakup di dalam Pramuka yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti “Rakyat muda yang suka berkarya”. Jadi, bisa dikatakan bahwa Pramuka adalah sebuah world organization yang hampir sempurna karena dapat menghantarkan generasi muda menyatukan sebuah perbedaan, membaktikan diri dan kegunaanya kepada kepentingan tanah air, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kepada umat manusia.

Hal ini tentu saja dengan berpedoman pada janji dan komitmen yang berbunyi: Trisatya, demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila; menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat; menepati Dasa Darma.

Dasa Darma:
1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
3. Patriot yang sopan dan kesatria.
4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil, dan gembira.
7. Hemat, cermat, dan bersahaja.
8. Disiplin, berani, dan setia.
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Kode kehormatan tersebut bukan sebuah hafalan yang cukup dihafalkan saja, namun sebagaimana disebutkan di atas, seorang Pramuka sudah seharusnya menepati Satya Pramuka dan mengamalkan Darma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Tunas muda sebagai pelopor generasi bangsa yang takkan pernah usang termakan oleh masa.

Semangat ini memang merasuk dalam jiwa nasionalisme seorang Pramuka sejati, yang tetap berdiri kokoh sebagai pribadi dewasa yang berhasil melalui proses metamorfosa tentunya menyadari ada hikmah di balik sebuah proses, untuk mewujudkan niat sucinya, yaitu dengan penuh kesederhanaan dan loyalitas tinggi mengabdi untuk bangsaku. Melalui Perjalanan panjang, 159 tahun lamanya nama pencetus Gerakan Pramuka tetap teduh sakral di hati, yaikni Robert Stephenson Smyth Baden Powell, yang laksana semangatnya masih tetap terjaga, meniadakan gelap di dalam terang melainkan terang di dalam gelap untuk generasi tunas muda harapan bangsa.

Berbicara tentang ritme waktu yang selalu melahirkan dinamika perubahan yang dinamis, dengan tunas muda harapan bangsa yang akan menjadi tokoh utamanya, menciptakan sebuah kisah penuh inspiratif di era yang terus berkembang yang tak menyebabkan semangat jiwa pancasila itu luntur dalam bingkai tri satya dan dasa dharma, hingga menangkap realitas dan mengolah dengan berbagai harapan mewujudkan negeri dan bangsa impian tanpa peperangan aman dan tentram. Upaya ini merumuskan pada umumnya pendidikan Pramuka dengan berbasis pemahaman mengenai menumbuhkan tunas muda harapan bangsa menjadi generasi yang lebih baik, sanggup bertanggung jawab dan mampu mengisi kemerdekaan nasional.

Kurangnya pengetahuan generasi muda tentang Gerakan Pramuka menyebabkan generasi muda kurang berminat untuk menjadi anggota Pramuka. Seperti yang kita ketahui bahwa buah nyiur sebagai lambang Pramuka mengkiaskan bahwa tiap Pramuka adalah seorang yang rokhaniah dan jasmaniah sehat, kuat, ulet, serta besar tekadnya dalam menghadapi segala tantangan dalam hidup dan dalam menempuh segala ujian dan kesukaran untuk mengabdi tanah air dan bangsa Indonesia.

“Seragam kebanggaan kita diciptakan bukan untuk menjadi bahan perbedaan. Tetapi, semangat membara merah putih di kera baju yang akan menjadi pemersatu wahai tunas muda, jayalah tunas harapan, pejuang tangguh penuh wibawa saling merangkul kawan, hey pandu-pandu bangsaku”. Sederet bait puisi itu penuh makna motivasi.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin bahwa tunas-tunas muda harapan bangsa Indonesia kita mampu mewujudkan generasi muda yang cerdas dan berbudi bersama dengan cita-cita luhur bangsa yang bermartabat, cita-cita bapak pandu dunia dan impian kita bersama. Semoga ini menjadi tahap awal dalam membentuk generasi muda yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Majulah tunas muda harapan bangsa indonesia untuk peradaban yang lebih baik. Tuhan mengiringi langkah kita. Salam perjuangan generasi tunas muda bangsa melalui menuju Indonesia hebat.

Tinggalkan Komentar