Share This Post

Pramuka Peduli

Tantangan Pramuka Membangun Kepribadian Bangsa

Tantangan Pramuka Membangun Kepribadian Bangsa

Membangun kepribadian bangsa tak bisa lepas dari pembentukan karakter setiap warganya. Sejatinya, pendidikan karakter tersebut perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka tak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Suatu tantangan bagi Gerakan Pramuka sebagai organisasi tertua yang ditunjuk pemerintah untuk menempa karakter generasi muda.

Hanya di Pramuka, anak usia dini sudah bisa belajar berorganisasi. Melalui Pramuka Siaga, anak-anak berusia 7-10 tahun (kelas 3-6 SD) sudah mengikuti beragam aktifitas yang penuh manfaat. Mereka belajar cara baris-berbaris, belajar pengetahuan umum, memasang tenda, membaca peta, hingga belajar kode-kodean.

Aktifitas itu akan meningkat jika mereka sudah memasuki jenjang SMP (usia 10-15 tahun). Melalui Pramuka Penggalang, mereka belajar banyak mengenai cara bertahan hidup di alam melalui perkemahan, ditambah event jambore yang menuntut setiap anggota Pramuka mengatur atau meng-handle sebuah acara.

Menginjak usia mulai dewasa, yaitu 16-20 tahun (SMA), kegiatan yang mereka dapatkan di tingkat sebelumnya diapilikasikan di dunia nyata. Pramuka Penegak begitu mereka menyebut dirinya, akan menyibukan dirinya dengan kegiatan-kegiatan sosial seperti membantu korban bencana serta membantu kepolisian dalam menjaga keamanan dan lalu lintas.

Tak hanya itu, Praja Muda Karana (Pramuka) yang memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Berkarya, juga dituntut mampu membentuk kepribadian bangsa. Selain menggembleng mental anak-anak agar disiplin dan mandiri, juga diajarkan untuk berbakti kepada orangtua dan takwa kepada Tuhan, juga memupuk nasionalisme alias cinta tanah air.

Model pelbagai aktifitas dasar tersebut sebenarnya sejalan dengan Standar Isi Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Dalam struktur kurikulum peraturan tersebut menyebutkan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) KTSP terdiri atas beberapa komponen, di antaranya pengembangan diri.

Berdasarkan Panduan Pengembangan KTSP yang diterbitkan oleh BSNP, antara lain dinyatakan:
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
Kegiatan pengembangan diri tersebut difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Lalu, mampukah Pramuka menjadi garda terdepan dalam membangun kepribadian bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Inilah yang menjadi tantangan bagi para Pembina Pramuka. Salam Pramuka !

Tinggalkan Komentar