Share This Post

Informasi & Teknologi / Rebranding Pramuka

DWI SATYA DAN DASA DHARMA PRAMUKA (Pondasi Kuat Membangun Karakter Bangsa)

DWI SATYA DAN DASA DHARMA PRAMUKA (Pondasi Kuat Membangun Karakter Bangsa)

DWI SATYA DAN DASA DHARMA PRAMUKA
(Pondasi Kuat Membangun Karakter Bangsa)

Oleh: Muhammad Iksan AW
Pegiat dan pemerhati Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sumbawa

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Melihat kondisi saat ini dan yang akan datang, mendidik siswa yang berkarakter merupakan kebutuhan yang amat vital. Penyelenggaran pendidikan karakter untuk mempersiapkan tantangan global dan meningkatkan daya saing bangsa, disamping terjadinya permasalahan pendidikan karakter.
Dalam Grand Desain pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Nilai-nilai luhur ini berasal dari teori pendidikan, psikologi pendidikan, dan nilai-nilai sosial budaya, ajaran agama, Pancasila, UUD 1945, dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta pengalaman terbaik dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur ini juga perlu didukung oleh komitmen dan kebijakan pemangku kepentingan serta pihak-pihak terkait lainnya termasuk dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan (Zubaedi, 2011). Lickona (Elkind & Sweet, 2004) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about that is right, and then do what they believe to be right. Even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Semua itu menegaskan bahwa terjadi ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa yang bermuara pada (1) disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa, (2) keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila, (3) bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, (4) memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, (5) ancaman disintegrasi bangsa, dan (6) melemahnya kemandirian bangsa.

Misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007), yaitu terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan prilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks.

Pembangunan karakter bangsa memiliki urgensi yang sangat luas dan bersifat multidimensional. Sangat luas karena terkait dengan pengembangan multiaspek potensi-potensi keunggulan bangsa dan bersifat multidimensional karena mencakup dimensi-dimensi kebangsaan yang hingga saat ini sedang dalam proses “menjadi”. Dalam hal ini dapat juga disebutkan bahwa (1) karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa; (2) karakter berperan sebagai “kemudi” dan kekuatan sehingga bangsa ini tidak terombang-ambing; (3) karakter tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Selanjutnya, pembangunan karakter bangsa akan mengerucut pada tiga tataran besar, yaitu (1) untuk menumbuhkan dan memperkuat jati diri bangsa, (2) untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan (3) untuk membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia dan bangsa yang bermartabat.

Organisasi Gerakan Pramuka yang tersusun secara sistematis dari tingkat pusat sampai tingkat desa, sangat memiliki peran yang vital dan bertanggung jawab dalam hal membangun karakter bangsa melalui teknik dan ilmu kepramukaan. Semua nilai-nilai karakter bangsa termuat dalam kode moral gerakan pramuka yaitu Dwi Satya dan Dasa Dharma. Organisasi Gerakan Pramuka harus menentukan kebijakan dalam bentuk School Based Scouting atau Pramuka Berbasis Sekolah (PBS). PBS diartikan sebagai role model yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung warga sekolah (pendidik, tenaga kependikan, kepala sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat) untuk meningkatkan nilai-nilai karakter melalui Pendidikan kepramukaan dalam pengintegrasian kurikulum 2013 (K13). PBS diterapkan bertujuan untuk membangun nilai-nilai karakter di sekolah yang efektif sehingga pendidikan berguna bagi pribadi, bangsa dan Negara. Dalam konteks ini, pengambilan keputusan harus segera dilakukan sebagai upaya menjawab tantangan revolusi industri 4.0 yang bisa “membahayakan” kondisi anak bangsa.
Gerakan pramuka di sekolah bisa dilakukan setiap hari sabtu dan memberikan waktu 2 jam pembelajaran kepada peserta didik untuk mendapatkan ilmu kepramukaan. Setiap hari sabtu, warga sekolah wajib menggunakan pramuka sekolah (mengunakan kacu/setangan leher) untuk menunjukkan identitas pramuka sebagai kepribadian luhur yang menjunjung nilai-nilai kemoralan dalam bentuk pelatihan dan Pendidikan.

Organisasi Gerakan Pramuka sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional dan latihan pada masing-masing tingkatan. Hal ini sebagai prakondisi pendidikan karakter pada satuan dan tingkatan yang untuk selanjutnya saat ini harus diperkuat dalam bentuk pembelajaran sebagai hasil dari kajian empirik. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.

Gerakan Pramuka telah meletakkan pendidikan karakter dalam kerangka dinamis dialektis, berupa tanggapan individu atas impuls natural (fisik dan psikis), sosial, kultural yang melingkupinya. Hal ini sebagai tempaan diri menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh yang membuatnya semakin manusiawi (Doni Koesoema, 2007).

Dengan menempatkan pendidikan karakter dalam kerangka dinamika dan dialektika proses pembentukan individu, para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan semakin dapat menyadari pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman perilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menyediakan ruang bagi figur keteladanan bagi anak didik dan menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan, keamanan yang membantu suasana pengembangan diri satu sama lain dalam keseluruhan dimensinya.

Menyangkut krisis nilai karakter yang melanda di negeri ini setidaknya kita dapat melihat adanya faktor utama yang kemudian diikuti faktor dan variabel pendukung yang semuanya butuh dikoreksi dan memerlukan pembenahan. Dengan demikian, penyelesaian krisis nilai karakter ini tidak bisa dilakukan oleh lembaga sekolah saja, tetapi memerlukan gerakan multipihak: pengelola lembaga pendidikan, pemerintah, agamawan, orang tua, dan masyarakat.

Semuanya harus bergerak dengan gerakan yang dapat melahirkan persepsi bahwa nilai karakter lebih tinggi dari sekedar pengetahuan semata. Menanamkan persepsi seperti ini tentunya harus dimulai dari bangku sekolah yang kemudian diperkuat oleh kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Komentar