Share This Post

Budaya / Humaniora / Informasi & Teknologi / Media Sosial / Penataan Organisasi dan SDM / Rebranding Pramuka / Regional

IMPLIKASI GERAKAN PRAMUKA DALAM PENDIDIKAN HUMANIS DAN KARAKTER

IMPLIKASI GERAKAN PRAMUKA DALAM PENDIDIKAN HUMANIS DAN KARAKTER

Aktifitas pendidikan yang masih dilakukan secara tradisional, yakni sistem pendidikan yang menekankan pada penguasaan materi pelajaran yang bersifat statis, dimana hanya sekedar menjawab ujian sekolah, tidak cocok lagi dengan proses kehidupan yang kompleks dan cederung progres.

Saat ini dibutuhkan dalam kehidupan sekarang ini adalah kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan yang terus menerus berubah dan berkembang, kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan fisik dan sosial yang terus berubah serta kemampuan menjaga kontinyuitas (kesinambungan kehidupan).

Pendidikan tidak seharusnya selalu dilakukan di dalam kelas, karena siswa sebagai masyarakat pembelajar terlalu terkekang, sehingga penanaman nilai-nilai terhadap siswa terlalu sempit. Penanaman nilai karakter seharusnya dilakukan dimana saja dan waktu kapan saja.

Pestalozi memandang ini semua untuk membela hak masyarakat miskin guna mendapat pendidikan yang semestinya. Guru versi Pestalozi adalah sebagai tempat kenyamanan anak, pendidikan harus diberikan pondasi dan pengembangan.

Menurut John Dewey, pendidikan sebagai pertumbuhan (growth), memberikan makna yang lebih mendalam, seperti: (1) Pendidikan sebagai aktifitas penyiapan anak untuk kehidupan yang akan datang; dan (2) Pendidikan sebagai proses unfolding (pemekaran) potensi. Banyak ide Pestalozzi yang sejalan dengan psikologi perkembangan anak.

Dua diantaranya adalah pentingnya menghargai individualitas anak dan mengembangkan head (kepala), heart (hati) dan hands (keterampilan tangan) secara seimbang.
Menghargai individualitas anak merupakan hal yang sangat penting, karena dengan demikian guru dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal melalui pengamatan yang cermat tentang sifat-sifat anak dan dengan obyek konkrit/nyata terlebih dahulu, sebelum memperkenalkan obyek yang abstrak.

Hal ini hanya dapat terwujud dalam kelas kecil (maksimal 12 anak/kelas), bukan dalam kelas masal. Sistem pendidikan di Barat saat ini secara menyeluruh telah membatasi jumlah murid per kelasnya. Pestalozzi juga menekankan bahwa dalam belajar perlu keselarasan/keseimbangan.

Kalau kita menekankan pelajaran hanya pada satu atau dua hal saja, maka yang lain tidak akan berkembang. Kurikulum di Indonesia lebih banyak muatan kognitifnya (head/kepala). Pengajaran yang lebih menekankan hanya pada aspek kognitif saja sering membuat anak menjadi stres dan mengalami kelelahan otak. Dalam hal ini aspek afektif dan psikomotor (heart/hati) dan ketrampilan tangan (hand/tangan) sering diabaikan, sehingga anak tidak dapat berkembang secara seimbang/selaras.

Ide Pestalozzi lainnya yang juga penting adalah learning by doing, belajar sambil melakukan. Untuk ini guru harus dipersiapkan untuk tidak selalu “menyuapi” anak didik terus menerus. Sedangkan belajar aktif menurut Pestalozzi mengharuskan anak mencoba, mengeksplorasi, mengobservasi, melakukan sendiri kegiatan sehari-hari. Dengan melalui learning by doing barulah anak belajar yang sebenarnya.

Gerakan pramuka yang di pelopori oleh Baden Powell dalam bentuk kepanduan mengharapkan organisasi ini sebagai sarana Pendidikan melalui kegiatan yang menyenangkan. Tipologi menyenangkan ini tentu saja menarik simpati dan minat dari anak-anak. Masuknya Pendidikan kepramukaan dalam bagian dari kurikulum pada berbagai jenjang Pendidikan, sepatutnya diberikan sebuah apresiasi yang tinggi apalagi organisasi ini sudah diberikan hak “keistimewaan” dalam bentuk undang-undang. Dengan diberikan hak “keistimewaan”, organisasi gerakan pramuka dianggap sebagai wahana pembentukan karakter siswa, karena dalam pramuka siswa dilatih kepemimpinan, kerjasama, solidaritas, mandiri dan keberanian.

Semua nilai-nilai tersebut, tertuang dalam kode kehormatan pramuka yaitu Dwi Dharma dan Dasa Dharma.
Diakui atau tidak, keberadaan organisasi gerakan pramuka di sekolah bahkan sampai perguruan tinggi telah memberikan bukti kongkrit dan arti tersendiri terhadap proses perkembangan siswa atau anak-anak. Pada titik inilah, kebijakan memberikan ruang tersendiri untuk gerakan pramuka menjadi bagian dari kurikulum dan menjadi faktor penting dalam mewujudkan Pendidikan karakter.

Program-program yang ada di organisai gerakan pramuka bertujuan membantu meletakkan dasar pendidikan sekolah kearah perkembangan sikap dan perilaku, pengetahuan, keterampilan, kreativitas dan daya cipta tinggi yang diperlukan oleh anak-anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Program-program tersebut mengantisipasi masa emas anak yang memerlukan stimulasi dan rangsangan yang disesuaikan dengan kelompok usia dan temaya dibuat menurut tuntutan jaman.

Implikasi Gerakan Pramuka dalam Pendidikan Karakter dan Humanis
Prinsip-prinsip pendidikan humanis menurut Prof. Dr. Sodiq A. Kuntoro (2008) dalam tulisannya “Sketsa Pendidikan Humanis Religius” antara lain bahwa prinsip pendidikan berpusat pada anak (child centered), peran guru yang tidak otoriter, fokus pada keterlibatan dan aktivitas siswa, dan aspek pendidikan yang demokratis dan kooperatif. Prinsip pendidikan ini diambil dari prinsip progresivisme sebagai reaksi terhadap pendidikan tradisional yang menekankan pada metode pembelajaran formal yang kurang memberi kebebasan pada siswa, sehingga siswa tidak kreatif yang sekedar mengikuti program pendidikan yang ditetapkan oleh orang dewasa”.
Prinsip-prinsip tersebut di atas, merupakan implikasi dari pandangan Pestalozzi bahwa tujuan pendidikan bukan untuk menanamkan pengetahuan, namun untuk membentangkan kemampuan alami dan mengembangkan kemampuan yang tersembunyi dalam setiap orang. Dengan kata lain, pendidik perlu memfokuskan pada human being pada anak, dan bukan pada pendidikan itu sendiri.

Tujuan pendidikan di Indonesia tertuang dalam UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Ditinjau dari tujuan pendidikan tersebut di atas, implikasi gerakan pramuka sudah tertuang didalam kurikulum organisasi yang secara jelas memberikan gambaran tentang “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi-pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung-jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Hal ini sesuai dengan ilmu kepramukaan bahwa tujuan umum pendidikan yaitu untuk pembangunan individu dan untuk perbaikan masyarakat. Pada tataran individu, pelatih dan pembina berjuang untuk mendidik “the whole child”, bukan hanya intelektualnya. Perkembangan fisik, ilmu pengetahuan, dan pembangunan emosional juga penting.

Gerakan Pramuka menekankan bahwa harus ada keseimbangan antara hand, head dan heart, antara pengetahuan intelektual (head), pendidikan fisik dan teknis (hands), dan pendidikan moral dan religius (heart). Melalui perkembangan keseimbangan antara tiga area ini, seseorang akan bias menjadi “the whole man”.

Pada tataran sosial, gerakan pramuka memberikan alat bagi perkembangan “the whole society”. Dengan kata lain, semakin seseorang berkembang dalam masyarakat secara intelek, sosial, emosional, moral, dan secara sosial melalui pendidikan kepramukaan, maka masyarakat keseluruhan (the whole society) akan semakin terdidik dan terregenerasikan.

 

*Muhammad Iksan AWP (egiat dan Pemerhati Pramuka Kwartir Cabang Sumbawa)

Tinggalkan Komentar