Share This Post

Media Sosial / Rebranding Pramuka / Regional

Membangun Will, Competence Dan Habituation Melalui Gerakan Pramuka

Membangun Will, Competence Dan Habituation Melalui Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka merupakan wadah Pendidikan bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa dalam mengembangkan minat, bakat serta skill dalam menghadapi tantangan zaman. Semenjak organisasi gerakan pramuka di Undang-Undangkan (Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka), tentunya berdampak secara implisit dan ekspilit bagi perkembangan organisasi yang secara nasional dan internasional mampu berkiprah dalam membentuk jati diri anggota dan organisasinya sampai di tingkat desa. Sebagai organisasi terstruktur secara massive, tentunya organisasi gerakan pramuka telah melewati berbagai tantangan, tantangan yang paling urgen dan kekinian dengan melihat kondisi bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk will, competence dan habituation melalui janji dan kode moral (Tri satya dan Dasa Dharma) para anggotanya.

Membangun Will, Competence dan Habituation harus dilakukan oleh organisasi candra dimuka (gerakan pramuka) sebagai jawaban untuk membentuk watak, jati diri bangsa dalam menjawab Indonesia emas 2045. Semenjak organisasi ini berdiri tahun 1961, tentunya gerakan pramuka sudah memiliki komitmen yang sangat jelas, semua ini terlihat dari Dasa Dharma Pramuka yang sejatinya mengandung nilai-nilai Educatingfor Character sepertinya yang tertuang dalam tulisan Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara.

Tahun 2010 pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” sebagai gerakan nasional. Isu tentang pendidikan karakter bangsa sebagai pilar pembangunan harus menjaga jati diri kita, keindonesiaan kita, karena hal yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di dunia adalah budaya kita, way of life kita dan keindonesiaan kita. Sebuah identitas dan kepribadian yang membuat bangsa Indonesia khas, unggul, dan tidak mudah goyah. Keindonesiaan kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinekaan, kekeluargaan, kesatuan, toleransi, sikap moderat, keterbukaan, dan kemanusiaan.  Hal-hal inilah yang harus kita jaga, kita pupuk, kita suburkan di hati sanubari kita dan di hati anak didik organisasi gerakan pramuka.

Bagaimana Gerakan Pramuka Membentuk Will, Competence and Habituation?

Bung Karnopernah menggelorakan sebuah tema besar nation and character buildingdanberpesan kepada kita bangsa Indonesia, bahwa tugas berat untuk mengisi kemerdekaan adalah membangun karakter bangsa. Apabila pembangunan karakter bangsa ini tidak berhasil, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli (H. Soemarno Soedarsono, 2009). Pernyataan Bung Karno ini menunjukkan pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter demi tegak dan kokohnya jati diri bangsa agar mampu bersaing di dunia global.

Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila telah memberikan landasan yang sangat mendasar, kokoh dan komprehensif. Selanjutnya secara operasional tentunya organisasi gerakan pramuka harus segera mengkokohkan diri melalui 10 nilai moral organisasi (Dasa Dharma) untuk membentuk terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis dan berorientasi Ipteks.

Dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (2010) disebutkan bahwa (1) karakter merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa; (2) karakter berperan sebagai ”kemudi” dan kekuatan, sehingga bangsa ini tidak terombang-ambing; (3) karakter tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat.

Dalam proses pembangunan karakter bangsa ini harus difokuskan pada tiga tataran besar: (1) untuk menumbuhkan dan memperkuat jati diri bangsa, (2) untuk menjaga keutuhan NKRI, dan (3) untuk membentuk manusia dan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia dan bangsa yang bermartabat (Udin S. Winataputra, 2010). Argumentasi tentang pentingnya pendidikan karakter dan perangkat lunak sebagai landasan dan rambu-rambu dalam pelaksanaan pendidikan karakter sudah tersedia.

Saat ini bagaimana organisasi gerakan pramuka harus melaksanakan secara massive dan suistinable. Melalui kegiatan pendidikan kepramukaannampaknya merupakan wahana yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan karakter bangsa. Seluruh aspek-aspek yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka harus menjadi tujuan pendidikan kepramukaan, baik yang terkait dengan tujuan eksistensial, kolektif maupun individual harus dicapai secara utuh melalui proses pendidikan kepramukaan dalam berbagai jalur dan jenjang anggota pramuka. Hal ini sesuai dengan pasa 7 ayat 2 Undang-Undang Gerakan Pramuka yang menjelaskan bahwa kegiatan Pendidikan kepramukaan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan spiritual dan intelektual, keterampilan dan ketahanan diri yang dilaksanakan melalui metode belajar interaktif dan progresif.

Metode belajar interaktif dan progresif dimaksud, tentunya diwujudkan melalui interaksi: (a) pengamalan kode kehormatan pramuka; (b) kegiatan belajar sambal melakukan; (c) kegiatan yang berkelompok, bekerjsama dan berkompetisi; (d) kegiatan yang menantang; (e) kegiatan di alam terbuka; (f) kehadiran orang dewasa yang memberikan dorongan dan dukungan; (g) penghargaan berupa tanda kecakapan: dan (h) satuan terpisah antara putera dan putri. Kalau hal ini dapat dilakukan, maka proses pencapaian Will, Competence dan Habituation akan tercapai dan berlangsung serta berada pada jalur yang benar.Sesuai dengan Hymne Pramuka: Kami pramuka Indonesia, manusia Pancasila, Satyaku dharmakan, Dharmaku kubaktikan, agar jaya Indonesia!

*penulis merupakan pegiat dan pemerhati Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sumbawa

Tinggalkan Komentar