Share This Post

Humaniora

Antara Pramuka dan Nilai-Nilai Ketuhanan

Antara Pramuka dan Nilai-Nilai Ketuhanan

Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana, organisasi untuk pemuda yang mendidik para anggotanya dalam berbagai keterampilan, disiplin, kepercayaan pada diri sendiri, saling menolong, dan sebagainya. Jika dipetik satu-persatu, praja artinya sebutan untuk siswa ikatan dinas di bawah Departemen Dalam Negeri atau bisa juga diberi makna kota atau negeri.Muda ialah golongan muda, kaum muda, anak muda. Makna karana di sini banyak sekali yang mengkiaskan sebuah karya atau bentuk sebuah hasil dari kerja itu. Singkatnya, Pramuka adalah orang muda yang berkarya.

Makna Pramuka juga dapat diartikan menjadi tri sula. Tri berarti tiga, sedangkan sula artinya tongkat kayu atau bambu yang runcing atau tajam ujungnya untuk menghukum orang. Pada ranah ini, penulis memahami bahwa tri sula ada sebuah bentuk senjata untuk mempertajam kepribadian Pramuka sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa ini.

Tiga senjata yang dikatakan di atas meliputi elemen-elemen pada kemampuan otak manusia, yaitu gravitasi IQ, EQ, dan SQ. Meminjam teori dari John Naisbitt Patricia Aburdance, dalam bukunya yang terkenal “Megatrend 2000”, bahwa 67.000 pegawai pacific bell di California mengikuti pelatihan ala new age. Demikian pula perusahan terkenal protecter dan gamble, ford motor company, AT dan januari 1999, bahwa Mark Moody, pimpinan senior salah satu perusahaan minyak di dunia shell, memanggil seseorang pendeta budha terkemuka guna memberikan training spiritual kepada 550 orang eksekutif perusahaan tersebut.

Gay Hendricks, seseorang profesor di Universitas Colorado, yang memperoleh gelar Ph.D. dari standford dan mengajar selama 20 tahun, bersama Kate Ludeman, seorang doktor di bidang psikolog dan seorang konsultasi eksekutif, menulis sebuah buku yang berjudul the corporate Mystic. Mereka telah menghabiskan ribuan jam untuk bercakap-cakap dengan ratusan eksekutif kelas dunia selama hampir 25 tahun. Beberapa perusahaan besar menjadi kliennya, seperti motorolla, general electric, johnson dan johndon dan silicon graphics.

Gay Hendricks dan Kate Ludeman menyatakan dalam bukunya, bahwa kemungkinan besar kita akan menemukan para mistikus (spiritualis) sejati di ruang rapat perusahaan-perusahaan besar bukan di tempat-tempat ibadah. Para mistikus ini mengamalkan nilai-nilai spiritual yang mereka ajarkan di perusahaannya, bahkan keduanya meramalkan bahwa para pengusaha yang sukses pada abad 21 akan menjadi pemimpin spiritual.

Kesimpulan ini tercetus setelah mereka bekerja dengan 800 orang eksekutif selama hampir 25 tahun. Kalau seperti itu yang terjadi di perusahaan-perusahaan besar dunia, lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini?. Perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik perusahaan swasta asing, swasta nasional, maupun peusahaan milik pemerintah (BUMN) semuanya mengalami fenomena yang sama, beramai-ramai memajukan perusahaanya guna meningkat kualitas SDM dan kinerja perusahaan. Berbagai macam pelatihan kepemimpinan, dengan berbagai sudut pandang dan dasar pijakan, tak jarang diikuti guna mencapai tujuan tersebut.

Intinya, dari tiga elemen di atas bisa kita ketahui bahwa Pramuka bermain pada ranah spiritual yang tertinggi. Hal ini dibuktikan dari tiga nilai fundamental yang Pramuka kenalkan kepada para anggotanya. Tiga nilai itu, yang pertama pancasila. Berdasarkan UU No. 13 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Bab II, pasal 2 tentang Asas, Fungsi, dan Tujuan pada ayat satu yang berbunyi Gerakan Pramuka Berdasarkan Pancasila sebagai ideologi negara yang diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai elemen yang memiliki nilai yang luhur, terlebih berisi tentang nilai-nilai khas dari bangsa Indonesia, namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah sila pertama pancasila yang mencantumkan nama konsep ketuhanan adalah salah satu bukti nilai ini sebagai salah satu nilali fundamentalis dari Pramuka.

Elemen yang kedua serta ketiga terletak pada kode kehormatan dari Gerakan Pramuka. Ini tercantum pada  UU No. 13 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Bab III, pasal 6, ayat 2. Bunyinya, “kode kehormatan Pramuka terdiri atas Satya dan Dharma Pramuka”. Satya merupakan ungkapan yang disebutkan Pramuka untuk selalu menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan seterusnya.

Nilai fundamental yang ketiga adalah pada Dasa Darma Pramuka. Dasa berarti sepuluh dan darma yang berarti kewajiban; tugas hidup; kebajikan di mana poin pertama dari dasa darma itu adalah bentuk ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tiga poin pertama pada nilai fundamentalis dari Gerakan Pramuka di sini mengandung unsur kepatuhannya terhadap Tuhan yang berangkat dari nilai spiritual.

Gravitasi ESQ yang menjadi ujung tombak sula ternyata secara terstruktur berbicara pada ranah nilai ketuhanan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak misteri yang belum kita temui di dalam Pramuka. Terlebih, ketika kita pandang Pramuka dari segi sosiologi, atau dari segi filosopi. Sedikit disinggung dari pembahasan di sini bahwa penulis akan kerucutkan pemahaman pramuka kita tentang benturan nilai-nilai teologi berdasarkan kaca mata Islam yang memandang bahwa nilai fundamentalis Pramuka jatuh pada pendekatan teologi agama yang menjunjung nilai-nilai ketuhanan.

Tinggalkan Komentar