Share This Post

Gaya Hidup

5 Mitos Rokok yang Tak Terbukti

5 Mitos Rokok yang Tak Terbukti

BANYAK orang hendak berhenti merokok, tetapi karena ada mitos rokok, akhirnya sebagian dari mereka tetap pada aktifitas lamanya, yakni merokok. Tak heran, data perokok di Indonesia masihlah banyak. Bahkan, menurut riset Atlas Tobbaco (dalam republika.co.id, 24/5/2016), Indonesia berada di kursi nomor satu negara paling banyak perokoknya.

Apa saja mitos rokok di Indonesia? Berikut 5 mitos rokok yang tak terbukti.

  1. Jika iklan rokok dilarang, daerah akan defisit karena menurunnya pendapatan asli daerah.

Mitos rokok ini jelas tak terbukti. Sebagai contoh, di Kota Bogor, sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, Penerimaan Anggaran Daerah (PAD) Kota Bogor terus meningkat, padahal iklan rokok terus dikurangi. Mulai tahun 2013, iklan rokok di Kota Bogor mulai hilang, tapi PAD tetap meningkat menjadi Rp464 miliar. Tahun 2015 tanpa iklan rokok, PAD Kota Bogor menjadi Rp631 miliar.

  1. Perokok menanggung sendiri resikonya

Ini tidaklah benar, karena asap rokok juga membawa kerugian bagi orang lain, khususnya orang-orang terdekat. Bagi ibu hamil misalnya, ia beresiko lebih tinggi untuk mengalami keguguran, lalu berat badan bayinya bisa di bawah rata-rata dan lahir mati. Bagi anak-anak misalnya, mereka beresiko lebih tinggi terserang pilek, asma, alergi, meningitis, dsb. Sementara mereka yang dibesarkan oleh orangtua yang merokok cenderung menjadi perokok juga ketika besar nanti.

  1. Dengan berolahraga dan memakan makanan bergizi dapat menebus dampak buruk dari merokok

Kenyataannya tak demikian. Penelitian menunjukkan, dampak kesehatan dari merokok tidaklah berkurang, meskipun kita sudah mengonsumsi makanan yang serba sehat dan olahraga.

  1. Sekali gagal mencoba untuk berhenti merokok, tak ada gunanya mencobanya lagi

Orang yang percaya dengan mitos ini termasuk orang yang gampang putus asa. Betapa tidak, banyak di luar sana yang sukses berhenti merokok. Sekali gagal, ia mencobanya lagi dan lagi sampai berhenti. Salah satunya adalah saya, yang dulu merokok, tapi kini sudah benar-benar berhenti merokok.

  1. Mengurangi jumlah rokok harian adalah cara yang terbaik

Mitos ini juga tak terbukti. Menurut Profesor dalam bidang Kedokteran dan Direktur Pusat Penelitian Tembakau dan Intervensi di University of Wisconsin di Madison, Michael C Fiore, perokok yang merokok lebih dari satu batang rokok sehari, meskipun mereka merokok lebih sedikit dari biasanya, tetap saja mendapat dosis mematikan dari asap beracun. Data menunjukkan, menurutnya, satu-satunya strategi berhenti merokok yang efektif ialah berhenti secara total.

Tinggalkan Komentar