Share This Post

Fiksi

“Jangan ! Mohon Jangan Dibelah Bayi itu”

“Jangan ! Mohon Jangan Dibelah Bayi itu”

Alkisah, suatu ketika terjadi pertengkaran antara dua perempuan yang sama-sama mengaku sebagai ibu dari seorang bayi.

Dua perempuan itu kemudian menghadap hakim untuk meminta dan memutuskan siapa ibu sebenarnya dari bayi itu. Tetapi, karena keduanya sama-sama bersikeras dan menunjukkan bukti yang kuat, sang hakim pun tak bisa ambil keputusan.

Masalah itu berlarut-larut tak menemukan keputusan. Terpaksa, sang hakim menghadap baginda raja untuk meminta bantuan agar perkara itu segera tuntas.

Baginda raja pun turun tangan membantu mereka. Ia coba gunakan segala taktik dan bujuk rayu, tapi tetap sama, kedua perempuan itu masih bersikukuh.

Sang raja putus asa. Ia akhirnya memanggil Abu Nawas yang terkenal cerdas dan cerdik, untuk menggantikan hakim yang sedang menyelidiki perkara.

Tak diduga, Abu Nawas juga tak bisa memutuskan perkara di hari itu juga. Ia kemudian menunda sampai hari berikutnya. Semalaman Abu Nawas berpikir keras bagaimana menyelesaikan perkara itu.

Esok harinya, sidang pengadilan dilanjutkan. Abu Nawas masuk ruang sidang dan tak lama kemudian memanggil algojo dengan membawa pedang di tangan. Ia meminta sang bayi diletakkan di atas meja.

“Apa yang akan yang Anda lakukan kepada bayiku?,” tanya serentak kedua perempuan yang mengaku sebagai ibu bayi itu.

“Sebelum saya memutuskan, apakah salah satu dari kalian ada yang bersedia mengalah dan menyerahkan bayi ini kepada yang memang berhak memilikinya ?,” tanya Abu Nawas.

“Tidak !,” teriak kedua perempuan tersebut. “Sesungguhnya bayi itu adalah anakku!,” lanjut mereka.

“Baiklah, jika kalian memang sama-sama menginginkan bayi ini dan tak ada yang mau mengalah, dengan sangat terpaksa saya akan perintahkan algojo untuk membelahnya menjadi dua, agar kalian dapat sama rata,” ucap Abu Nawas dengan nada mengancam.

Mendengar ancaman dari Abu Nawas, Perempuan pertama girang bukan main. Sementara perempuan kedua justru sebaliknya, berteriak histeris.

“Jangan! mohon jangan belah bayi itu”, katanya dengan nada cemas. Lanjutnya, “Biarlah, saya rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepadanya”

Mendengar permintaan perempuan kedua, Abu Nawas tersenyum lega. Ia kini tahu siapa sebenarnya ibu dari bayi itu.

Ia segera mengambil bayi itu dan langsung diserahkan kepada perempuan kedua. Ia juga minta agar perempuan pertama dihukum berdasarkan perbuatannya.

Keputusan itu diambil oleh Abu Nawas karena ia yakin tak ada seorang ibu yang tega menyaksikan anaknya sendiri disakiti, apalagi dibelah begitu. Seorang ibu lebih memilih ia saja yang tersakiti dan kehilangan daripada harus mendapati anaknya sendiri celaka.

***

Sungguh mulia peran seorang ibu. Masihkah kita lupa dengan ibu sendiri? Sudahkah kita berbakti kepadanya?.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Ikatan Ibu-Ibu Kwarnas (IIK) mengajak anggota Pramuka dan masyarakat umum untuk sayang kepada ibu. Salah satu kegiatannya ialah “Membasuh Kaki Ibu” secara massal pada Rabu 21 Desember 2016, mulai pukul 08.00 WIB, di Area Air Mancur Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur.

Kegiatan “Membasuh Kaki Ibu” adalah bentuk sayang kita kepada ibu. Mari kita ikuti kegiatan itu, seperti dengan mengirimkan sms ke Kak Kartika (0817-9239-885), Kak Heni (085327809080), Kak Mairiani (085695554571).

Tinggalkan Komentar