Share This Post

Humaniora

Marhaban Yaa Ramadhan 1438 H

Marhaban Yaa Ramadhan 1438 H

Adalah kalimat yang sering kita dengar baik menjelang maupun ketika bulan Ramadhan itu tiba, termasuk Ramadhan 1438 H. Ini tak sekadar kalimat ucapan selamat datang bulan Ramadhan, tapi juga memiliki makna mendalam.

“Marhaban” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Sedangkan dalam bahasa Arab, “Marhaban” berasal dari kata “Rahb” yang berarti “Luas” atau “Lapang.”

Jadi, “Marhaban” menggambarkan bahwa tamu disambut dengan lapang dada. Bulan itu juga dipersiapkannya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya.

Marhaban yaa Ramadhan menggambarkan bahwa kita menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan menganggap kehadirannya bukan justru menyiksa kita. Umat Islam di Indonesia mengekspresikan kebahagiaan itu dengan beragam kegiatan, seperti dugderan di Semarang, padusa di Klaten, Boyolali dan Yogyakarta, meugang di Nangroe Aceh Darussalam, nyorog di masyarakat Betawi, dsb.

Mengapa untuk menyambut bulan ini begitu “meriah”?. Mualla bi Fadhl, seperti dituturkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, menceritakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad SAW dahulu membagi dua belas bulan (dalam setahun) menjadi dua bagian.

Bagian pertama (enam bulan pertama), mereka memohon kepada Allah SWT agar bisa mendapati bulan Ramadhan dan bisa beribadah puasa di dalamnya dengan baik. Bagian kedua (enam bulan berikutnya), mereka memohon kepada Allah SWT agar menerima puasa dan amal ibadah lain yang telah dilaksanakannya pada bulan Ramadhan tersebut.

Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk berpuasa Ramadhan. Ini diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu “wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar bertakwa.”

Puasa jika dimaknai secara sederhana memang berarti menahan haus, lapar, dan hawa nafsu. Lebih dari itu, puasa memiliki makna yang luas dan banyak manfaatnya. Puasa dapat melatih diri menjadi insan yang sensitif dan peka terhadap penderitaan orang lain, melestarikan kultur damai, kasih sayang dan wadah yang efektif untuk melestarikan sisi-sisi kemanusiaan.

Puasa juga bermanfaat untuk kesehatan. Doktor ahli bedah dan psikiater Amerika Dr. Alexil Karl mengatakan, “manusia hendaklah mengharuskan diri untuk melakukan puasa selama beberapa waktu. Karena dengan puasa ini pertama-tama manusia merasa lapar sehingga kadang-kadang menimbulkan gangguan fisik yang kemudian diikuti dengan rasa lemah. Akan tetapi, disamping itu mempunyai efek samping yang jauh lebih bermanfaat daripada kelemahan fisik, yaitu menormalkan denyut jantung, membakar lemak yang ada di bawah kulit, memfungsikan cadangan protein, mengurangi intensitas kerja hati, sehingga dapat melestarikan keseimbangan organ-organ dalam dan kesehatan jantung.”

Itulah sebab, menunaikan puasa Ramadhan hanya untuk memenuhi kewajiban harus kita tinggalkan. Puasa Ramadhan merupakan momentum menempa manusia-manusia unggul dan lebih berprestasi di masa mendatang. Termasuk bagi para pemimpin di negeri ini.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1438 H. (@msamsularifin17)

Tinggalkan Komentar