Share This Post

Hiburan

Sinopsis Film AATS (Ayu Anak Titipan Surga)

Sinopsis Film AATS (Ayu Anak Titipan Surga)

Produser          : Bagus Hariyanto

Sutradara         : Guntoro Sulung

AYU, seorang anak perempuan yang usia sembilan tahun sudah ditinggal Ayahnya meninggal dunia karena sakit komplikasi. Ia benar-benar menunjukan sifat yang jarang dimiliki anak-anak seusianya dan menjadi contoh bagi anak-anak yang lain.

Kecerdasan dan kejujurannya, bisa menjadi pelipur lara dan kepercayaan bagi keluarga yang sedang dalam tekanan hidup yang ekonominya pas-pasan. Kesetiakawanannya bisa menjadi sahabat bagi semua, termasuk pak Karta, sosok miskin yang hanya menjadi tukang kebun di sekolahnya. Keberaniannya bisa menjadi penolong sesama.

Berbeda dengan karakter tokoh cerita yang satu ini. Evi, seorang anak yang berasal dari keluarga kaya, sangat bertolakbelakang dengan ayu. Kurangnya perhatian orang tua menjadi penyebab terbentuknya karakter dan sifat yang tidak diharapkan.

Kedua karakter yang berlawanan itulah yang menjadi sisi menarik dalam cerita anak ini. Latar belakang di keluarga Evi, di mana ayahnya yang diharapkan bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik, memantau dan membimbing, justru sibuk dengan hobi memelihara kuda-kudanya yang sangat mahal dan hebat-hebat.

Sementara ibunya yang seharusnya bisa menjadi sahabat dekat, tempat mencurahkan isi hati dan keinginan sekaligus perekat dalam keluarga, justru sibuk dengan urusan materi untuk kepentingan pribadi. Kakak satu-satunya yang selayaknya bisa membantu membimbing jika dalam kesulitan, justru sibuk dengan kegiatannya sendiri di luar rumah.

Latar belakang itulah yang makin menjerumuskan bocah malang itu mudah cemburu, iri hati dan sifat-sifat lainnya yang tidak terpuji. Hal itulah yang sering ditunjukan kepada Ayu di sekolahnya.

Bagi Ayu, sifat dan sikap yang ditunjukkan Evi adalah hal yang berat. Karena harus mengorbankan perasaan agar tak terjadi keributan di antara mereka. Dituduh bersekongkol ingin memusuhi Evi dan teman-temannya, Ayu masih bisa mengatasi dan tak terjadi keributan. Diganggu saat di sekolah, Ayu juga masih bisa menahan diri.

Suatu ketika “dikerjain” agar terlambat masuk sekolah, Ayu juga masih bisa bertahan dan tak terjadi permasalahan. Bahkan difitnah dengan berbagai cara, Ayu juga masih tetap dengan sifatnya yang tak ingin membalas kejelekan sifat Evi.

Tak disangka tapi terjadi. Seorang Ayu, anak SD yang belum tahu banyak hal tentang dunia kejahatan di luar sana, kini terpampang terlihat di depan mata. Ayu dan kedua sahabatnya mendapati Evi teman sekelasnya yang notabene sering membuat masalah dan memfitnahnya, kini diculik dan disekap oleh kawanan mafia perdagangan manusia.

Entah apa itu. Ayu dan kedua sahabatnya hanya tahu bahwa ada penculikan dan penyekapan oleh kawanan penjahat. Mustahil bagi Ayu untuk bisa memahami bagaimana cara menyelamatkan Evi dan beberapa anak-anak lainnya yang rata-rata masih di bawah umur. Sebagai anak-anak biasa seusianya, Ayu dan kedua sahabatnya merasa takut yang luar biasa. Tapi, naluri keberanian tetap tak bisa terbendung untuk bisa membantu menyelamatkan sesamanya yang sedang membutuhkan pertolongan.

Evi baru menyadari bahwa kebaikan sifat Ayu ini bukan sekadar pura-pura. Dengan melalui perjuangan dan proses yang cukup panjang dan melelahkan yang dipenuhi oleh resiko dengan taruhan nyawa, Ayu akhirnya terbukti mampu menyelamatkan Evi tanpa pamrih, tanpa melihat bahwa Evi adalah seorang anak yang sering menyakitinya. Ayu melepaskan Evi dari manusia-manusia jahat yang nyaris mencelakakannya dan banyak korban lainnya.

Menanam kebaikan akan berbuah kebaikan, memupuk keburukan hasilnya akan berlipat keburukan. Keberanian Ayu mengundang simpati berbagai pihak, termasuk pejabat nomor satu di daerah tempat tinggalnya. Bahkan jiwa kesetiakawanan Ayu inilah yang mengangkatnya menjadi sosok bocah terkenal di seluruh nusantara, karena perannya telah menggagalkan kejahatan luar biasa.

Karena kemuliaan karakter dan kepahlawanan Ayu itulah, banyak pihak memberikan rasa simpatinya dan mengapresiasinya. Di antaranya, pemerhati anak Kak Seto, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, dan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault. “Jadi, Ayu ini kita harapkan jadi model yang menginspirasi anak-anak muda Indonesia, remaja Indonesia untuk bisa seperti Ayu,” ujar Kak Adhyaksa.

Ayu pun diganjar penghargaan karena dianggap pahlawan. []

Sumber: Rumah Produksi Griya Pelopor Budaya                                                                       

                                                               

Tinggalkan Komentar