Share This Post

Luar Negeri

Asia Pasifik Apresiasi Metode Pendidikan Kepramukaan Indonesia

Asia Pasifik Apresiasi Metode Pendidikan Kepramukaan Indonesia

JAKARTA, PRAMUKA.OR.ID – Kegiatan Edufor yang digelar Asia-Pacific Regional Scout (APRS) di National Scout Training Center, Mouchak, Gazipur, Bangladesh sudah berakhir pada Selasa 12 Desember 2017. Kegiatan yang membahas persoalan pendidikan kepramukaan di kawasan Asia Pasifik ini menghasilkan beberapa poin atau catatan.

Kepala Pusdiklatnas Gerakan Pramuka Kak Suyatno yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, forum itu membahas sosialisasi hasil Kongres Pramuka Dunia di Azerbaijan, terutama mengenai program pengembangan pendidikan kepramukaan untuk peserta didik dan orang dewasa.

“Untuk selanjutnya setiap National Scout Organisation (NSO) diminta mensosialisasikan di negaranya masing-masing,” ujar Kak Suyatno saat dihubungi, Kamis (14/12).

Dalam pengembangan pendidikan kepramukaan, kata Kak Suyatno, peran orang dewasa sangat penting. Sebab dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, orang dewasa dituntut selalu menciptakan formula baru yang unik dan menarik sesuai kultur masyarakat setempat, agar Pramuka bisa semakin berkembang.

“Tentu ini bisa menyesuaikan dengan kondisi kultur dari negara masing-masing NSO,” tuturnya.

Selain itu, forum juga memutuskan bahwa Pramuka harus punya strategi masif dalam rangka mensosialisasikan kegiatan Pramuka kepada masyarakat melalui komunikasi di media massa dan media sosial. “Setiap NSO diminta aktif untuk mensosialisasikan kegiatan kepramukaan di medsos, ini bagian dari strategi mengangkat sistem pendidikan Pramuka,” tegas Kak Suyatno.

Dalam kesempatan itu, Kak Suyatno juga menyampaikan metode kepramukaan yang dipakai di Indonesia, sehingga organisasi kepanduan ini bisa diterima oleh masyarakat, bahkan anggotanya paling besar di seluruh dunia. Menurutnya, metode pendidikan kepramukaan di Indonesia dilakukan secara luas dan mendalam.

“Misalnya, dalam pendidikan di Gerakan Pramuka selalu ditetapkan metode belajar sambil melakukan (learning by doing) melalui berbagai kegiatan menarik dan menantang di alam terbuka yang mengandung pendidikan sesuai perkembangan rohani dan jasmani anggota muda,” jelasnya.

Di samping itu, pengamalan kode kehormatan, kuatnya peran anggota dewasa sebagai pembina dan pelatih, dan sistem beregu menjadi rahasia suksesnya gerakan kepanduan atau kepramukaan di Indonesia. “Respons mereka (negara luar) sangat bagus, mereka salut dan mengapresiasi tentang metode kepramukaan yang dipakai di Indonesia, sehingga itu dianggap berhasil karena anggota kita paling banyak,” pungkasnya. (HA/AK)

Tinggalkan Komentar