Share This Post

Rebranding Pramuka

Bantu Rohingya, Pramuka Tembus Tiga Lokasi di Myanmar

Bantu Rohingya, Pramuka Tembus Tiga Lokasi di Myanmar

JAKARTA – Meski situasi keamanan di Myanmar belum bisa dikatakan aman, Gerakan Pramuka masih terus berupaya melakukan misi kemanusiaan untuk membantu para korban bencana kemanusiaan yang dialami Etnis Rohingya. Pramuka bahkan berhasil menembus tiga lokasi untuk mendistribusikan bantuan.

Hal itu disampaikan oleh Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka Urusan Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana (Abdimasgana) Kak Eko Sulistio. Ia saat ini masih bertahan di Myanmar untuk membantu Etnis Rohingya yang menjadi korban kekejaman Pemerintah Myanmar.

Tiga lokasi yang sudah berhasil ia tembus yakni daerah Thay Chawy Kwakpyu, Refugee Camp, Rakhine State, Sittwey, Myanmar. Kedua, di daerah Zaitula Ghuna Village, Rakhine State, Myanmar, dan ketiga, daerah Meseri Dash Camp Refugee, di Thay Chawy, Rakhine State, Sittwey, Myanmar. Di tiga tempat pengungsian itu Eko memberikan 200 paket makanan untuk 200 kepala keluarga.

“Di setiap lokasi alhamdulillah kami berhasil mendistribusikan 200 paket makanan atau sembako, meski saya akui tidak mudah untuk bisa sampai ke tempat itu karena faktor keamanan yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan diri kita,” ujar l Eko saat dihubungi, Rabu (22/11).

Setidaknya ada tiga alasan kenapa Kak Eko kembali Myanmar untuk melakukan misi kemanusiaan. Pertama, tidak ada bantuan dari negara donor yang datang ke Sittwey, Rakhine State, Myanmar. Kedua, negara-negara donor semua tertuju ke Bangladesh karena masih ada 600 ribu pengungsi Etnis Rohingya di sana.

“Ketiga kelaparan di Myanmar sangat parah, warga Etnis Rohingya tidak ada mata pencaharian. Mau pergi melaut mencari ikan saja dilarang oleh pemerintah setempat,” ungkapnya.

Kak Eko terbang ke Myanmar pada 8 November 2017 setelah mendapat izin dari Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault dan Wakil Ketua Kwarnas Bidang Abdimasgana Mayor Jenderal TNI Muhammad Herindra. Belum tahu pasti sampai kapan Eko di sana. Sebab Etnis Rohingya masih sangat membutuhkan bantuan dari negara asing.

“Selama ini mereka hidup hanya mengandalkan bantuan dari negara-negara asing, karena memang hak kewarganegaraan mereka tidak diakui jadi mereka tidak bisa mendapatkan hak, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi,” jelasnya.

Keterlibatan Kak Eko dalam misi kemanusiaan di Myanmar sudah dilakukan sejak tahun 2012. Dalam menjalankan tugasnya ia kerap dibantu oleh para relawan setempat. Ia terus berharap dan berdoa semoga krisis kemanusiaan yang menimpa Etnis Rohingya segera berakhir.

“Semoga bantuan kemanusiaan ke depan dapat lebih leluasa dan bantuan yang datang lebih banyak. Lebih dari itu, harapan terbesar kami krisis kemanusiaan ini bisa diakhiri,” pungkasnya. (HA/AK)

Tinggalkan Komentar