Share This Post

Tokoh

Buku dan Bung Hatta

Buku dan Bung Hatta

Oleh: Tim Redaksi

Bung Hatta saat berusia 17 tahun sudah membeli dan mengoleksi buku. Buku yang dikoleksi pun dari berbagai macam bahasa. Ia menguasai empat bahasa asing, yaitu Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis.

Bung Hatta seorang yang mengoleksi buku, sekaligus memahami isi buku yang dikoleksinya. Sehari 6-8 jam membaca buku. Buku berat dibaca malam hari, buku ringan dibaca pada sore sekitar pukul empat atau setengah lima sore.

Bahkan, ketika menikahi istrinya, Rahmi Rachim, Bung Hatta memberikan mas kawin berupa buku. Ketika bukunya dikembalikan peminjam, ia selalu bertanya, apakah isi bukunya sudah dipahami?, kemudian terjadilah diskusi di antara mereka.

Menurut Sri-Edi Swasono, hingga tahun 1972, Bung Hatta telah menulis 42 buah buku. Ini belum tulisan-tulisan lainya yang tersebar dalam surat kabar, brosur, majalah.

Ketika pulang ke Indonesia dari Belanda, Bung Hatta membawa serta 16 peti buku. Ketika diasingkan pemerintah penjajah Belanda di  Banda Neira Maluku dan Boven Digoel, ia juga membawa 16 peti bukunya itu.

Bung Hatta menyukai sekali buku bertema ekonomi, kajian Islam, hukum, hubungan internasional, sejarah, biografi, dan sosial. Jumlah buku berkisar 10 ribu judul dengan buku tertua tahun 1800.

Buku berjudul Het Jaar 2000 yang ditulis oleh Bellamy dan dibaca dalam waktu sehari. Kemudian buku De Socialisten yang ditulis H. P. Quack sebanyak 6 Jilid. Buku itu membahas tentang sejarah sosialisme sejak zaman Yunani. Karena berat dan berjilid-jilid Bung Hatta membacanya hingga tamat sekitar satu tahun.

Ada juga buku berjudul De Staathuishoudkunde karya N. G. Pierson yang membahas perihal teori-teori ekonomi. Buku lainya misalnya tentang Mahatma Gandhi, buku khusus tentang Indonesia, Matahari Terbit karya Buya Hamka.

Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2017.

Diolah dari sumber: muradmaulana.com dan bandungmagazine.com.

Tinggalkan Komentar