Share This Post

News

Hadiri WOSM Leadership Workshop Asia Pasifik Region, Kwarnas Berikan Masukan Sistem Among

Hadiri WOSM Leadership Workshop Asia Pasifik Region, Kwarnas Berikan Masukan Sistem Among

JAKARTA – Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka menghadiri WOSM Leadership Workshop Asia Pasifik Region (Lokakarya Kepemimpinan dalam Kepramukaan WOSM Kawasan Asia Pasifik) pada tanggal 24-26 Februari 2017, di Hotel Elcielito St. Rosa, Laguna, Manila, Filipina. Lokakarya ini merumuskan pola kepemimpinan kepramukaan yang dipakai peserta didik, anggota dewasa, manajemen, dan kegiatan kepramukaan.

Ada 13 negara yang hadir pada lokakarya tersebut. Di antaranya, Indonesia, Filipina, Jerman, Denmark, Finlandia, Mauritus, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia, Senegal, Jepang, dan Portugal.

“Hasil yang diharapkan pada lokakarya ini adalah rumusan kepemimpinan dalam kepramukaan,” kata Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional (Pusdiklatnas) Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Prof. Dr. Suyatno, MPd., Sabtu (25/2/2017).

Kak Suyatno menjelaskan, ada empat aspek yang dijalankan dan dikenalkan oleh WOSM, yakni Purpose Skill, Individual Skill, Process Skill, dan Others Skill. Purpose berkaitan dengan inspirasional leadership, individual berkaitan dengan self managerial leadership, process berkaitan dengan operasional leadership, dan other berkaitan dengan relational leadership. Pola kepemimpinan tersebut menjadi basis penerapan pada program peserta didik, anggota dewasa, managemen, dan proses kegiatan.

“Ada 30 peserta yang turut serta memberikan gagasan kepemimpinan kepramukaan. Tentunya, Indonesia akan memberikan masukan sistem among sebagai dasar bagi leadership kepramukaan,” ucap Kak Suyatno.

Sebelumnya, dalam kegiatan Pelatihan Pembina Pramuka/ Training Of Trainer (TOT) tingkat Nasional bulan lalu, Kak Suyatno pernah mengatakan leadership kepramukaan Kwarnas Gerakan Pramuka harus bisa memujudkan tiga hal. Pertama, berkinerja tinggi yaitu melakukan tugas dan fungsinya sebagai seorang pelatih, misalnya mengajar, melatih dan menyusun kurikulum; Kedua, menjadi sosok (teladan) artinya mempunyai visi dan misi, ramah pada orang lain, bisa menjadi acuan bagi orang lain, sosok pelatih yang seimbang antara pemikiran dan perbuatan.

“Ketiga, Pelatih harus bisa menjadi pemimpin yang among dan astabarata di mana pun pelatih itu berada dia harus menjadi pencerahan bagi orang lain. Tiga hal ini harus dimiliki pelatih Pusdiklatnas,” ujarnya Kak Suyatno, di Aula Agus Salim Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (26/01/2017). (HK)

Tinggalkan Komentar