Share This Post

Penataan Organisasi dan SDM

Mengenal Peninggalan Prasejarah di Kemah Budaya Nasional

Mengenal Peninggalan Prasejarah di Kemah Budaya Nasional

PARIGI MOUTONG – Ribuan Pramuka mengikut Kemah Budaya Nasional (KBN) IX, di Palu, Sulawesi Tengah. Tidak hanya berdiam di tempat, mereka juga diajak mengunjungi tempat bersejarah, misalnya peninggalan zaman prasejarah berupa Lumpang Batu di Dusun Jati Luwih, Desa Catur Karya Kecamatan Balinggi.

Di desa tersebut terdapat lumpang batu yang digunakan masyarakat pada zaman prasejarah. Masyarakat percaya lumpang itu dipakai untuk menumbuk bahan makanan dan obat-obatan pada masa itu. Lumpang batu di Dusun Jati Luwih terdepat disejumlah lokasi. Tiga di antaranya terdapat di Pura Ulun Siwi di Dusun Jatih Luwih, Desa Catur Karya.

Panitia lokal KBN IX yang juga Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Kak F. Eny Susilowati mengatakan, jelajah ini dimaksudkan untuk mengenalkan budaya masyarakat prasejarah di Kabupaten Parigi Moutong.

Kak Eny menjelaskan, anak-anak Pramuka diajak untuk mencintai kearifan lokal dari masyarakat setempat. Sebab, kebudayaan adalah salah satu warisan terbesar bangsa Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan. Melalui kemah ini ia berharap Pramuka semakin memahami kebudayaan di wilayah masing-masing.

“Kemah ini mengajak peserta untuk mencintai dan memahami kearifan lokal dari kebudayaan dan adat istiadat yang ada di masyarakat. Kebudayaan yang arif itu perlu dijaga, dan anak-anak perlu diberi pemahaman sejak usia dini,” ujar Kak Eny, Jumat (21/9/2018).

KBN 2018, Sulteng. (Foto: Dok. Humas Kwarnas)

Kak Eny menjelaskan, lumpang batu tidak hanya terdapat di Jati Luwih, tetapi juga tersebar di beberapa tempat. “Sebarannya juga hingga di Desa Olaya, Kecamatan Parigi, jumlahnya kurang lebih empat buah lumpang batu,” kata Kak Eny.

Selain itu di Desa Tokasa, Kecamatan Torue kurang lebih sebanyak 67, dan ditemukan juga di wilayah pegunungan Kecamatan Tinombo. Sedangkan di Jati Luwih hanya terdapat kurang lebih 23 lumpang batu, termasuk yang ditemukan di pura Ulun Siwi, Desa Catur Karya.

Kades Catur Karya, Kak I Nyoman Senayasa, mengatakan, dusun tersebut sering dikunjungi sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Tengah. Selain di pura, lumpang juga terdapat di area persawahan dan bagian belakang rumah warga setempat yang tidak terlalu jauh dari pura Ulun Siwi.

Ia mengisahkan, lumpang batu awalnya ditemukan oleh orang tua mereka yang merupakan warga transmigrasi asal Bali, sekitar tahun 1973. Pertama kali mereka bertempat tinggal di Desa Tolai, kemudian membuka hutan di Desa Catur Karya yang jumlahnya kurang lebih 27 Kepala Keluarga (KK).

Masyarakat lalu membuka lahan yang dulunya hutan belantara itu dengan sistem kelompok. Pada saat membuka lahan tersebut ditemukanlah lumpang batu dan sebuah parang pusaka (guma).

Pemerintah desa berkomitmen akan tetap menjaga dan melestarikan temuan prasejarah tersebut. Pihaknya sangat terbuka jika ada pihak dinas yang ingin bekerja sama agar lebih bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

“Kalau ada dari pemerintah, mari kita sama-sama bagaimana caranya supaya cagar budaya ini bisa bermanfaat bagi anak cucu kita,” tandasnya.

Pihaknya juga bersyukur atas kunjungan peserta KBN yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Karena dengan kegiatan jelajah tersebut tentu akan mengangkat nama desa mereka di tingkat nasional.

Kemah ini diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Setidaknya ada 3.000 peserta yang mengikuti kegiatan ini dari Pramuka Penggalang. Kemah berlangsung tanggal 17-22 September 2018. (HA/AK)

Tinggalkan Komentar