Share This Post

Budaya

Warna-warni Pakaian Tradisional Meriahkan Upacara Hari Sumpah Pemuda Pramuka

Warna-warni Pakaian Tradisional Meriahkan Upacara Hari Sumpah Pemuda Pramuka

JAKARTA, PRAMUKA.OR.ID – Ada yang berbeda dari Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Bumi Perkemahan Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (28/10). Jika biasanya Pramuka memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan mengenakan seragam Pramuka lengkap, kini mereka memakai pakaian tradisional dari seluruh Indonesia.

Pukul 07.00 WIB, peserta upacara sudah berdatangan dengan mengenakan pakaian tradisional, mulai dari Provinsi Aceh sampai Provinsi Papua. Usut diusut, ternyata mereka adalah peserta Lomba Festival Budaya dalam rangka Lomba Tingkat Lima (LT-V) Gerakan Pramuka.

Dalam upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault menjadi pemimpin upacara. Ia berharap, Sumpah Pemuda bukan hanya jadi slogan, melainkan juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sumpah Pemuda jangan hanya jadi ucapan semata, tapi jelmakan menjadi karya nyata,” kata Kak Adhyaksa Dault dalam sambutannya di Lapangan Kempi, Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (28/10).

Kak Adhyaksa meneruskan, sejak berdirinya, Gerakan Pramuka berkontribusi nyata untuk bangsa Indonesia, termasuk turun andil dalam Kongres Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Organisasi dengan jumlah anggota 22 juta itu juga berkontribusi dalam pendidikan karakter generasi muda Indonesia.

Tak lama setelah upacara, Lomba Karnaval Budaya dimulai. Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Bidang Pembinaan Anggota Muda, Kak S. Budi Prayitno menilai, keberagaman pakaian tradisional dalam lomba ini menggambarkan keragaman Indonesia dalam bingkai NKRI.

“Mari kita bersama-sama menunjukkan keragaman Indonesia dalam bingkai NKRI. Adik-adik jangan lupa senyum dan sapa masyarakat. Dengan ini Lomba Karnaval Budaya resmi dimulai,” kata Kak Budi saat membuka Lomba Karnaval Budaya.

Para peserta menampilkan beragam baju daerahnya masing-masing. Seperti Kontingen Jambi, yang menampilkan baju Telok Belango, Suku Anak Dalam, dan Batik Jambi. Kontingen Bali menampilkan baju Rangdo. “Kontingen kami menampilkan baju Rangdo yang biasa dipakai parade budaya, upacara adat Hindu,” kata Kak


Budiarto (14 tahun), peserta asal Bali.

Lomba ini diikuti 66 regu Pramuka Penggalang dari 33 Provinsi se-Indonesia. LT-V Gerakan Pramuka dibuka pada Senin pagi, 23 Oktober 2017 oleh Kak Adhyaksa Dault, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka. Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan lomba yang diikuti Pramuka Penggalang terbaik dari setiap Provinsi di Indonesia.

LT-V adalah kegiatan yang sangat dinantikan dan prestisius, karena seleksi peserta yang sangat ketat. Regu yang bisa mengikuti Lomba Tingkat Lima (LT-V) adalah Regu yang menjuarai empat Lomba Tingkat (LT) sebelumnya, yaitu LT-I (tingkat Gugus Depan), LT-II (tingkat Kecamatan), LT-III (tingkat Kota/Kabupaten), dan LT-IV (tingkat Provinsi). Jadi, LT-V adalah pertemuan regu penggalang terbaik di Indonesia. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka. (MSA/AK)

Tinggalkan Komentar