Share This Post

Pramuka Peduli

Dasar Anak Pramuka!

Dasar Anak Pramuka!

Oleh: Nabhan Nadziq
Itulah kalimat yang sering saya dengar saat masih kecil pada tahun 80-an. Boleh jadi, kalimat itu diucapkan dan dimaksudkan memang untuk mengkerdilkan Pramuka. Saat itu, ujaran tersebut terdengar tidak aneh, biasa-biasa saja, bahkan menjadi bumbu lelucon di masyarakat terutama kalangan remaja.

Saya menduga bahwa ujaran tersebut dengan mudah terucap karena beberapa alasan. Pertama, saat itu keberadaan Pramuka tidak dianggap penting, branding-nya belum layak jual dan belum banyak berkontribusi buat masyarakat.

Kedua, para pemangku Pramuka belum mampu mengonsep dan merumuskan bentuk dan arah Pramuka secara tepat yang dapat mengambil hati masyarakat.

Secara perlahan, pelabelan bernada miring itu sudah tidak lagi tepat disematkan untuk anak-anak Pramuka saat ini. Bahkan, bukan saja mampu berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat, anak-anak Pramuka bangga memakai atribut Pramuka.

Apa yang membuat Pramuka seakan layak diapresiasi? Tidak lain adalah karena Pramuka saat ini mulai bermetamorfosis, bukan saja sekadar menjadi institusi yang mengajarkan baris berbaris, tali-temali atau sejenisnya. Pramuka dengan bangga dan berani melebur secara nyata dalam pelbagai kegiatan kemasyarakatan, aksi sosial, peduli bencana dan lainnya.

Tanpa melebih-lebihkan, apa yang telah dicapai oleh Pramuka saat ini tentu dikemas melalui perumusan gagasan, ide dan konsep yang matang dan terukur. Perlu pemikiran, pengorbanan, kerja keras dan dedikasi dari para pemangku yang terlibat pada gerakan Pramuka. Karena, tidak ada sesuatu yang langsung jadi tanpa proses.

Bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam Gerakan Pramuka, tentu saja. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mesti dibesar-besarkan.

Kekurangan yang terdapat pada Gerakan Pramuka hanya dapat diselesaikan melalui sumbangan masukan berupa ide, gagasan, pemikiran bahkan nasihat yang membangun.

Bagi yang sudah menonton film Cold War II, yang rilis di penghujung tahun 2016 ini, dipastikan tidak akan melewatkan ucapan dalam dialog di film tersebut, “Saya tidak butuh kritik, tapi nasihat,” demikian dikatakan sang kepala kepolisian Hongkong saat harus membuat sebuah keputusan penting untuk menyelamatkan institusi dan keluarganya.

Saya hanya hendak menyampaikan bahwa tidak ada kritik yang membangun, yang ada adalah masukan yang membangun.

Banggalah menjadi Anak Pramuka!

Tinggalkan Komentar