Share This Post

Humaniora

Membina Diri dengan Menulis

Membina Diri dengan Menulis

Nurjamal dalam Sumirat Darwis (2011:69) mengemukakan bahwa menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan, perasaan, dan pemikiran-pemikirannya kepada orang atau pihak lain dengan menggunakan media tulisan.

Senada dengan konsep ini, hemat penulis, menulis merupakan seni merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat yang berisi ide atau gagasan serta perasaan. Hal ini dibangun oleh kesadaran akan adanya ‘sesuatu’ yang muncul dari dalam diri, yakni kenyataan yang dialami dan dirasakan secara pribadi, maupun dari luar diri berupa fakta atau obyek yang dilihat.

Aktivitas menulis sesungguhnya bisa dilakukan oleh semua orang dari berbagai lapisan dan golongan. Namun, fakta yang terjadi sekarang ini adalah masih banyak orang terutama kalangan remaja enggan menumbuh-kembangkan kegiatan menulis. Padahal melalui aktivitas menulis karakternya bisa terbentuk, antara lain mengolah perasaan dan kemandirian dalam berpikir.

Karena itu, tulisan ini merupakan sebentuk “cambukan” bagi para remaja-pelajar (pramuka penggalang dan penegak) agar mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya ialah menulis.

Mengolah Perasaan

Menulis sebagai kegiatan mengolah perasaan berarti penulis melalui bahasa tulisan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Hal yang dirasakan itu berkaitan dengan emosi yang muncul dari dalam diri, antara lain gembira, senang, suka, duka, benci, jengkel, marah.

Kalian, para remaja tentu pernah dan bahkan seringkali memiliki perasaan atau emosi dimaksud. Semuanya itu jika tidak diolah secara benar akan menimbulkan ketidak seimbangan karakter.

Contohnya, kalau kalian sedang mengalami kegembiraan yang meluap-luap (jatuh cinta, punya hp baru yang canggih), kalian bisa saja terlena dan larut dalam kegembiraan tanpa memikirkan lagi aktivitas lain yang lebih bermafaat. Ataupun yang mengalami kesedihan (putus cinta, memperoleh nilai rendah), kalian bisa patah semangat dan seakan pintu kesuksesan tertutup.

Perasaan atau emosi tersebut mesti diselidiki dan diolah dengan bertanya kepada diri sendiri. Misalnya, mengapa saya tiba-tiba marah? Apa yang mesti saya lakukan kalau saya benar-benar merasa senang, sedih, dan marah? Semua yang dirasakan tersebut harus di-luap-kan.

Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan berteriak di tengah jalan, berpura-pura kesurupan, tawuran, menikmati dugem (dunia gemerlap) hingga larut malam atau mempromosikan kegalauan di medsos. Tetapi, tumpahkan semuanya lewat tulisan.

Persiapannya sederhana dan murah. Cukup sebuah buku diary dan pena. Syukurlah kalau memiliki komputer, laptop, notebook sendiri. Kemudian, mulailah menulis dari hal-hal yang dialami dan dirasakan.

Di sini, aktivitas menulis sesungguhnya mendorong kalian untuk senantiasa merefleksikan keadaan diri. Dari sinilah akan terbangun energi positif dalam diri berupa motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mandiri dalam Berpikir

Mandiri dalam berpikir berarti mampu menghasilkan ide-ide kreatif dari hasil pikiran sendiri. Sebagai remaja, umumnya kalian belum mampu berpikir mandiri. Kalian cenderung bergantung penuh pada orangtua/wali, guru dan pihak sekolah. Hal ini tampak dalam sikap cuek, inisiatif rendah atau hanya mau belajar jika disuruh dan diimingi hadia.

Kenyataan seperti ini jika tidak disadari dan disiasati dengan baik maka akan menghasilkan generasi muda yang mental enak, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan bukan mustahil dekadensi moral terjadi dan budaya korupsi merebak di masa depan.

Lantas, apa yang harus dilakukan remaja dari sekarang? Dari perspektif penulis, jawabannya dimulai dari sebuah seruan tunggal: “menulislah!”. Sebab, dengan berlatih menulis kalian akan belajar mengetahui alur pikiran sendiri tentang masalah yang dihadapi.

Syarat awalnya adalah tidak perlu memikirkan bagaimana cara menulis, tetapi tulislah apa yang kalian pikirkan. Untuk maksud ini, maka sesungguhnya kalian tidak lagi hanya berdiri sebagai obyek atau penonton pasif, melainkan perlahan ikut melibatkan diri dalam memikirkan cara memecahkan aneka persoalan yang relevan dengan kehidupan sebagai seorang remaja-pelajar.

Melalui kegiatan menulis, kalian diharapkan bisa menjadi calon pemikir yang cerdas dan berwawasan. Hingga pada akhirnya, aktivitas menulis akan mengarahkan kalian untuk tidak hanya berfokus pada diri sendiri tetapi akan terbuka untuk melihat kenyataan yang ada di luar diri. Kalian dilatih untuk kritis terhadap berbagai fenomena global yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Tentu saja ini menjadi secercah harapan akan teciptanya generasi yang benar-benar bermutu, berguna bagi kehidupan bangsa dan negara di masa mendatang. Karena itu, mulailah menulis dari sekarang.

Tinggalkan Komentar