Share This Post

Penataan Organisasi dan SDM

Menggagas Kegiatan Pramuka yang Kreatif dan Menyenangkan

Menggagas Kegiatan Pramuka yang Kreatif dan Menyenangkan

Tanggal 30 September 2016 yang lalu merupakan saat yang bersejarah bagi Gudep SMA PGRI Waingapu. Para pengurus dan pembina dilantik dan Gudep SMA PGRI Waingapu dikukuhkan dengan nomor Gudep 01.29/01.30. Dengan demikian, Gudep SMA PGRI Waingapu resmi terdaftar di Kwarcab Sumba Timur. Peristiwa ini tentu sangat menyenangkan bagi semua pihak terkait. Sebagai pembina, penulis berpikir bahwa peristiwa ini mengandung harapan, yakni kemajuan kegiatan pramuka yang kreatif serta menyenangkan dan berdampak langsung terhadap pengembangan diri peserta didik.

Kegiatan pramuka sebagai salah satu sarana pembentukan karakter peserta didik, sama sekali tidak diragukan lagi. Karena titik berat pendidikan pramuka adalah pembentukan watak, pembangunan akhlak, serta pembentukan nilai dan sikap positif (Kahono P.C, Menarik dan Menantang dalam Permainan Pramuka, Puri Pustaka: 2010). Namun, dalam pelaksanaannya terutama di Gudep SMA PGRI Waingapu dijumpai beberapa persoalan mendasar. Persoalan tersebut antara lain, pertama banyak peserta didik yang mengaku tidak berminat menjadi anggota pramuka. Mereka melihat kegiatan pramuka sangat membebankan, banyak peraturan dan kakuh. Kedua banyak juga peserta  didik yang berminat tetapi dilarang oleh orangtua/wali. Orangtua/wali beranggapan bahwa pramuka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang terutama pada waktu kegiatan camping. Orangtua/wali kwatir akan keselamatan anaknya karena kegiatan camping pramuka harus jauh dari rumah dan menginap hingga beberapa malam. Kecemasan atau kekwatiran para orangtua inilah yang menyebabkan anak-anak mereka terpaksa tidak mengikuti kegiatan pramuka. Dan ketiga model kegiatan pramuka yang dijalankan tidak dikemas sesuai dengan tuntutan perkembangan peserta didik sehingga kegiatan pramuka menjadi sesuatu yang sangat membosankan. Ada siswa yang sudah masuk pramuka kemudian muntaber (mundur tanpa berita).

Di tengah himpitan persoalan-persoalan yang ada, peran pembina amatlah vital dalam konteks ini. Para pembina tentu saja tidak hanya berfokus pada upaya membangun argumentasi mempersalahkan orangtua/wali yang melarang anaknya mengikuti kegiatan pramuka dan peserta didik yang mati minat terhadap pramuka. Melainkan, pembina mesti memikirkan cara ampuh agar kegiatan pramuka bisa dipercaya oleh orangtua/wali siswa dan siswa merasa butuh pramuka.

Untuk  itu, ada beberapa takaran peluang berupa gagasan yang kiranya bisa diterapkan guna mengatasi persoalan yang ada. Pertama Gudep harus melibatkan orangtua/wali siswa dalam menyusun visi, misi dan merancang program kegiatan. Hal ini memungkinkan orantua/wali dapat  mengenal pramuka secara lebih baik. Orantua/wali tidak  lagi melihat kegiatan pramuka dari sisi negatif. Cara seperti ini juga akan membuat orangtua merasa menjadi bagian sekaligus bertanggungjawab terhadap proses kegiatan pramuka. Mereka akan dengan mudah mendorong anak-anak mereka agar aktif mengikuti kegiatan pramuka. Kedua, para siswa juga diikutsertakan dalam menyusun program kegiatan. Mereka diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengungkapkan ide serta keinginan mereka. Kesempatan itu juga menjadi saat yang tepat bagi pembina dan orangtua/wali untuk mendengarkan secara langsung apa hasrat anak-anak yang relevan dengan perkembangan mereka. Hal ini memungkinkan kegiatan pramuka yang tepat sasar sekaligus menyenangkan. Ketiga, perlu adanya pemurnian motivasi para pembina untuk menjadi pembina pramuka. Artinya, menjadi pembina merupakan sebuah panggilan yang menuntut pengabdian dan pengorbanan yang tulus. Pembina harus mengembangkan kompetensinya dengan terus belajar dan tidak patah semangat manakala setumpuk persoalan datang menggerogoti. Pembina harus tetap membangun relasi atas dasar saling menguntungkan dengan pengurus Kwarcab dan Gudep di sekolah lain.

Jika ide atau gagasan di atas diterapkan, niscaya kegiatan pramuka menjadi lebih menarik sekaligus memikat banyak peserta didik untuk ikut aktif membina diri di dalamnya. Gagasan tentang kegiatan pramuka yang kreatif dan menyenangkan layak diangkat dan diterapkan agar semua pihak terkait (terutama pembina dan orangtua/wali serta para siswa), bisa berpikir bersama-sama untuk mengemas model kegiatan pramuka yang relevan dan upto date. Ini tentu menjadi secercah harapan akan terciptanya kegiatan pramuka yang benar-benar berdampak positif bagi peserta didik. Dan akhirnya, Gudep SMA PGRI Waingapu sungguh-sungguh dapat dipercaya dan diandalkan di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar